- Jenis Kanker
- Kanker Endometrium
Kanker Endometrium
Ringkasan
Kanker endometrium merupakan tumor ganas yang sering ditemukan pada saluran reproduksi wanita, dengan mayoritas kasus terjadi pada masa perimenopause atau pascamenopause. Karena gejala perdarahan uterus abnormal sudah muncul sejak stadium awal, sebagian besar kasus dapat terdiagnosis pada stadium dini yang masih dapat disembuhkan, sehingga prognosis secara keseluruhan tergolong sangat baik.
Faktor Risiko
·Obesitas, hipertensi, dan diabetes melitus (dikenal sebagai trias kanker endometrium)
·Nuliparitas
·Sindrom Ovarium Polikistik
·Terapi estrogen jangka panjang
·Faktor genetik, seperti Sindrom Lynch
·Riwayat penggunaan tamoksifen
Etiologi
Stimulasi estrogen tanpa penyeimbangan dalam jangka panjang merupakan faktor penggerak inti. Jaringan adiposa mengonversi androgen menjadi estrogen, sehingga memperberat hiperplasia endometrium. Selain itu, individu dengan Lynch syndrome memiliki risiko seumur hidup hingga mencapai 60%.
Gejala
Gejala yang paling sering ditemukan adalah perdarahan vagina pascamenopause atau perdarahan tidak beraturan pada masa perimenopause. Gejala ini dapat disertai dengan peningkatan volume cairan yang keluar dari vagina. Pada stadium lanjut, dapat muncul manifestasi klinis berupa nyeri panggul dan asites. Perdarahan abnormal tersebut menjadi sinyal awal yang sangat penting bagi pasien untuk segera melakukan pemeriksaan medis.
Rencana Pengobatan
·Operasi: Prosedur histerektomi total ekstrafasial yang disertai salpingo-ooforektomi bilateral merupakan pilihan terapi utama, di mana tindakan diseksi kelenjar getah bening ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan patologi. Pada sebagian pasien usia muda stadium awal, pembedahan dapat dipertimbangkan untuk mempertahankan organ ovarium.
·Terapi Minimal Invasif: Prosedur pembedahan laparoskopi atau bedah robotik dapat dipilih karena meminimalkan trauma pembedahan dan mempercepat masa pemulihan pasien. Bagi pasien yang masih ingin mempertahankan fungsi kesuburan, pembedahan dapat dilakukan berupa reseksi lesi tumor melalui panduan histeroskopi yang dikombinasikan dengan terapi progesteron dosis tinggi.
·Kemoterapi dan Radioterapi: radioterapi ajuvan dan kemoterapi pascaoperasi ditujukan bagi pasien dengan kategori risiko tinggi. Sementara itu, kemoradioterapi simultan diterapkan untuk tata laksana kasus stadium lanjut lokal.
·Terapi Target dan Imunoterapi: Penggunaan obat penghambat pos pemeriksaan imun diindikasikan untuk kasus dengan status high microsatellite instability. Selain itu, obat terapi target spesifik juga tersedia untuk menangani kasus yang memiliki mutasi gen tertentu seperti PIK3CA.
·Lain-lain: Terapi hormon (seperti progesteron) diterapkan untuk pasien yang menjalani program mempertahankan fertilitas serta pasien yang mengalami kekambuhan. Konseling genetik juga sangat direkomendasikan untuk manajemen penanganan pasien dengan Sindrom Lynch.
Pemeriksaan dan Diagnosis
Pemeriksaan histeroskopi yang dikombinasikan dengan biopsi endometrium merupakan baku emas dalam menegakkan diagnosis pasti. Pemeriksaan USG transvagina dilakukan sebagai penapisan awal untuk mengukur ketebalan dinding endometrium. Pemeriksaan MRI digunakan secara spesifik untuk mengevaluasi kedalaman invasi tumor pada lapisan miometrium. Pemeriksaan kadar penanda tumor CA-125 serta pemeriksaan pencitraan lainnya dilakukan untuk membantu penahapan stadium. Pemeriksaan protein penanda terkait Sindrom Lynch juga sangat direkomendasikan untuk setiap pasien.