UNI-ASIA Logo WATA Logo
Li Xiufang
Kewarganegaraan: Tiongkok
Diagnosis:
Kanker Hati
Rencana Pengobatan:
Pengobatan Intervensi Transarterial
Hubungi Kami Sekarang
Li Xiufang
Bagikan ke:

17 Tahun Berlalu, Anak Berusia 9 Tahun Itu Kini Menjadi Kebanggaan Saya

Saya Li Xiufang, seorang pensiunan karyawan di sebuah kabupaten biasa di Provinsi Sichuan. Hari ini, saya ingin menceritakan kisah tentang anak perempuan saya.

Kisah ini dimulai tujuh belas tahun yang lalu. Saat itu tahun 2009, anak perempuan saya, Xiao Li, baru saja menginjak usia sembilan tahun dan duduk di kelas tiga sekolah dasar. Pada masa-masa itu, dia selalu terlihat tidak bertenaga, kehilangan nafsu makan, dan rona wajahnya kuning pekat. Saya mengira dia hanya kelelahan karena beban pelajaran sekolah. Sampai suatu hari sepulang sekolah, dia tiba-tiba memegangi perutnya sambil berteriak kesakitan hingga keringat dingin membanjiri dahinya. Saya pun bergegas membawanya ke rumah sakit daerah.

Saat prosedur USG dilakukan, raut wajah dokter langsung berubah. Setelah itu, pemeriksaan CT scan kembali dilakukan, dan pada hari hasil pemeriksaannya keluar, saya benar-benar membeku, terdapat tumor yang tumbuh di organ hatinya, tepat di area porta hepatis sekunder kedua. Posisinya menempel erat pada pembuluh darah besar dan ukurannya sudah sebesar kepalan tangan. Dokter mengatakan sangat jarang ada anak perempuan sekecil itu yang mengidap penyakit ini, ditambah lagi posisinya sangat rumit dan berbahaya, sehingga mereka tidak sanggup menanganinya.

Saya dan ayahnya tidak mau menyerah, kami kembali mendatangi beberapa rumah sakit lainnya. Namun, para dokter yang melihat hasil rontgen tersebut semuanya langsung menggelengkan kepala. Mereka mengatakan tumor itu tumbuh di area hilus hati dan sangat dekat dengan pembuluh darah besar, jika nekat dilakukan pembedahan, risiko mati pasien dalam proses meja operasi terlalu tinggi. Beberapa dokter bahkan langsung berterus terang kepada kami, "Tidak bisa dioperasi, pulang aja." Pada masa-masa itu, setiap malam saya memeluk anak perempuan saya sambil menangis, lalu pada siang harinya saya memaksakan diri untuk terus berlari mendatangi berbagai rumah sakit. Seorang anak perempuan berusia sembilan tahun, baru menginjak kelas tiga SD, tas sekolahnya bahkan masih tergantung di balik pintu menunggunya kembali. Bagaimana mungkin saya menyerah begitu saja?

Tepat di saat kami hampir kehilangan arah dan putus asa, salah seorang perwakilan keluarga sesama pasien memberi tahu saya bahwa di Chengdu terdapat sebuah Rumah Sakit Uni-Asia. Di sana ada seorang Profesor Liao Zhengyin yang ahli dalam bidang intervensi minimal invasif. Banyak tumor yang dinyatakan tidak dapat dioperasi oleh rumah sakit besar, justru bisa ditangani dengan berbagai metode di bawah penanganannya. Saya dan ayahnya berdiskusi semalaman, lalu keesokan harinya pagi-pagi sekali kami langsung membawa anak perempuan kami ke sana.

Sesampainya di Rumah Sakit Uni-Asia, Profesor Liao memeriksa lembar demi lembar seluruh laporan pemeriksaan yang kami bawa dengan sangat teliti, lalu menjadwalkan ulang beberapa pemeriksaan lanjutan untuk anak saya. Setelah selesai, beliau duduk di samping anak perempuan saya, mengusap kepalanya dengan lembut, lalu bertanya berapa usianya, duduk di kelas berapa, dan pelajaran apa yang paling disukainya. Anak saya yang awalnya terus menunduk dan terdiam, perlahan-lahan mulai tersenyum setelah dihibur oleh beliau.

Kemudian Prof. Liao berbalik ke arah kami, mengeluarkan sebuah pena dari sakunya, lalu menggambar di balik secarik kertas kosong sambil menjelaskan, "Bu, mengenai kondisi anak perempuan Anda ini, saya akan memberikan sebuah analogi agar Anda bisa langsung memahaminya. Tumor ini ibarat sebuah pohon kecil yang akarnya tertanam di dalam hati, dan tepat di sampingnya mengalir sebuah sungai besar. Jika kita menggunakan pisau bedah untuk menebang akarnya, dikhawatirkan akan melukai sungai tersebut, itulah mengapa rumah sakit lain tidak berani bertindak. Namun coba Anda pikirkan, jika sebuah pohon tidak mendapatkan air dan pupuk, pohon itu pasti akan kering dan mati dengan sendirinya. Hal yang bisa saya lakukan sekarang adalah menemukan pembuluh-pembuluh darah kecil yang menyalurkan ‘air’ ke pohon ini, menyumbat jalurnya, lalu menyuntikkan obat kemoterapi menyusuri pembuluh tersebut hingga tepat ke dasar akarnya. Dengan begitu, pohon itu akan layu dengan sendirinya, sementara sungai besar akan tetap mengalirkan airnya tanpa terpengaruh sedikit pun." Setelah selesai menjelaskan, beliau meletakkan penanya, menatap kami berdua selaku orang tuanya, dan berkata, "Jalan pengobatan ini bisa ditempuh. Serahkan kepada saya, Anda berdua jangan panik." Itu adalah pertama kalinya ada seorang dokter yang mengucapkan kata "bisa ditempuh" kepada saya setelah kami telanjur mendatangi begitu banyak rumah sakit. Seketika air mata saya menetes, setelah sekian lama berada di jalan buntu tanpa arah, akhirnya ada seseorang yang mengulurkan tali penyelamat kepada kami.

Pada hari tindakan operasi dilakukan, saya dan suami saya menunggu di luar ruang operasi dengan hati yang sangat gelisah. Hanya dalam waktu sekitar satu jam, Prof. Liao keluar dari ruangan dan memberi tahu kami bahwa operasinya berjalan sangat lancar, serta beberapa pembuluh darah penyuplai nutrisi ke tumor telah berhasil disumbat. Detik itu juga saya langsung menangis, tangisan penuh rasa syukur dan bahagia.

Proses pemulihan anak perempuan saya berjalan jauh lebih cepat dari yang kami bayangkan. Pada hari kedua pasca-operasi, dia sudah memberi tahu saya bahwa dia ingin makna bubur, dan pada hari ketiga dia sudah bisa turun dari tempat tidur untuk berjalan-jalan di sekitar bangsal perawatan. Setelah dirawat selama beberapa hari, kami diizinkan pulang ke rumah. Ia pun kembali ke sekolah lagi, seolah-olah tidak pernah terjadi hal berat apa pun sebelumnya.

Sejak saat itu, kami selalu membawanya kembali ke Rumah Sakit Uni-Asia untuk menjalani pemeriksaan penapisan ulang tepat waktu setiap tahun. Pada tahun pertama, bayangan hitam pada hasil rontgen tampak mengecil satu lingkaran; pada tahun ketiga, ukurannya menyusut lagi; hingga akhirnya, dokter menunjuk ke arah gambar rontgen tersebut dan berkata kepada saya, "Lihat ini, sudah hilang sepenuhnya." Prof. Liao menjelaskan bahwa kondisi ini dinamakan "kesembuhan klinis", yang berarti tumornya sudah tidak ada lagi dan seluruh indikator hasil pemeriksaan berfungsi dengan normal.

xiaoli

(Gambar di atas menunjukkan hasil pencitraan CT scan pasien saat pertama kali didiagnosis (Gambar 1, 2, 3, 4)

xiaoli

serta hasil pencitraan CT scan pada saat pemantauan tindak lanjut pasca-operasi (Gambar 5, 6, 7))

Tujuh belas tahun telah berlalu. Dari tahun 2009 hingga 2026, anak perempuan kecil berusia sembilan tahun yang dulu, kini telah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa yang cantik dan anggun. Ia lulus kuliah dengan predikat sebagai mahasiswa berprestasi di kampusnya dan telah menerima beberapa penghargaan tingkat universitas. Pada hari upacara kelulusannya, saat melihatnya mengenakan toga dan berfoto, saya menangis tersedu-sedu di bawah panggung. Sekarang, ia telah bekerja di industri yang disukainya, berangkat pagi dan pulang malam setiap hari, menjalani hari-harinya dengan penuh semangat dan kemantapan hati.

Terkadang-kadang, saya membuka kembali rekam medis dan hasil pemeriksaan dari waktu itu. Melihat lembaran-lembaran kertas yang telah menguning, saya selalu teringat masa-masa ketika hidup kami seolah runtuh. Hati saya dipenuhi perasaan yang bercampur aduk, perih, tetapi juga penuh rasa syukur. Jika saat itu kami tidak menemukan Rumah Sakit Uni-Asia, jika kami tidak bertemu dengan Prof. Liao Zhengyin dan timnya, saya tidak berani membayangkan seperti apa kehidupan kami hari ini.

Beberapa waktu lalu, anak perempuan saya berkata bahwa setelah ia menerima bonus akhir tahun nanti, ia ingin mengundang Profesor Liao untuk makan bersama. Saya berkata kepadanya, "Anak bodoh, beliau itu sangat sibuk, mana ada waktu untuk makan bersamamu." Ia kemudian mengusulkan untuk mengirimkan sebuah spanduk apresiasi. Saya menjawab, "Bagus, ide bagus."

Inilah kisah dari keluarga saya. Seorang anak perempuan berusia sembilan tahun, sebuah penyakit besar yang hampir merenggut nyawanya, sebuah rumah sakit yang tidak pernah menyerah, dan sekelompok pakar medis yang benar-benar ahli di bidangnya. Tujuh belas tahun telah berlalu, anak perempuan saya hidup dengan sangat baik, jauh lebih baik daripada apa pun.

 

 

Kasus ini berdasarkan pengalaman nyata pasien dan telah melalui pemrosesan privasi. Informasi ini bukan merupakan janji hasil diagnosis atau pengobatan.

Tim MDT
Menghimpun para spesialis terkemuka Tiongkok di bidang intervensi minimal invasif tumor untuk menyediakan layanan pengobatan kanker minimal invasif terkemuka di dunia untuk Anda.
Lihat selengkapnya

Konsultasi Gratis

Kategori Konsultasi
Nama
Jenis Kelamin
Tanggal Lahir
Kewarganegaraan
Negara Tempat Tinggal
No. Telepon/HP
Email
Pertanyaan Anda
Kebijakan Privasi dan Pernyataan

Berhasil Dikirim

Kami telah menerima konsultasi Anda. Terima kasih atas kepercayaan Anda. Staf kami akan menghubungi Anda dalam 72 jam, jadi mohon perhatikan panggilan telepon dan email.

Buat Janji WhatsApp
Hubungi