- Kisah pasien
- Zhang Suying
Menari Selama Setengah Hidup, Kali Ini Saya Berdiri Kembali Berkat Rumah Sakit Uni-Asia
Nama saya Suying. Sebelum pensiun, saya adalah seorang penari. Selama lebih dari separuh hidup saya, saya berdiri di atas panggung, dan setiap gerakan tubuh selalu dapat saya kendalikan dengan sempurna. Namun ketika mengingat kembali hari saya didiagnosis menderita kanker lambung empat tahun lalu, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya merasa tubuh ini tidak lagi mengikuti kehendak saya.
Pada tahun itu saya menjalani operasi pengangkatan lambung secara total, kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi dan radioterapi. Efek samping dari kemoradioterapi tersebut hampir merenggut nyawa saya. Jumlah trombosit saya bahkan sempat turun hingga hanya mencapai satu digit. Meski demikian, saya berhasil melewati semuanya. Saya berpikir bahwa tumornya telah diangkat seluruhnya dan perjuangan berat itu akhirnya telah berakhir, sehingga saya bisa kembali menjalani hidup dengan tenang.
Namun pada bulan Februari tahun lalu, nyeri di perut kembali muncul. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kanker telah menyebar luas ke rongga perut dan juga telah bermetastasis ke hati. Yang paling berat adalah tumor telah menekan usus hingga menyebabkan obstruksi total. Saya tidak bisa makan, tidak bisa minum, bahkan mengeluarkan gas maupun buang air besar pun menjadi sesuatu yang mustahil. Saya berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya untuk mencari harapan. Namun, hampir semua dokter memberikan jawaban yang sama. “Tubuh Anda terlalu lemah, jumlah trombosit tidak bisa naik, usus juga tersumbat parah. Operasi kembali tidak memungkinkan, dan Anda juga tidak akan sanggup menjalani kemoterapi serta radioterapi.” Pada akhirnya, pilihan yang tersisa hanyalah memasang selang dekompresi gastrointestinal dan memberikan nutrisi melalui infus sebagai terapi suportif untuk mempertahankan kondisi saya dari hari ke hari.
Pada masa-masa itu, saya hanya bisa berbaring di tempat tidur dengan berbagai selang terpasang di tubuh. Saya menatap langit-langit kamar setiap hari dan merasa diri saya seperti sebuah lampu yang hampir kehabisan minyak, cahayanya semakin lama semakin redup. Namun saya tidak ingin menyerah. Setelah berjuang melawan kanker selama empat tahun, saya tidak rela perjalanan hidup saya harus berakhir seperti ini.

Keterangan foto: Kondisi Ibu Suying saat pertama kali dirawat di rumah sakit kami.
Keluarga saya kemudian berusaha mencari berbagai informasi dan akhirnya mengetahui tentang Rumah Sakit Uni-Asia di Chengdu, sebuah rumah sakit spesialis terapi kanker minimal invasif berstandar internasional yang melayani pasien dari berbagai negara. Rumah sakit ini didukung oleh sejumlah pakar terkemuka yang sebelumnya berkiprah di rumah sakit umum terbaik di Tiongkok, termasuk rumah sakit yang secara konsisten menempati tiga besar nasional. Nama-nama seperti Zhang Jinshan, Xiao Yueyong, Liao Zhengyin, Luo Xiaoping, Yi Cheng, Li Zhiping, dan Hu Xiaokun telah lama dikenal luas di kalangan medis. Hal yang paling memberi saya harapan adalah fokus Rumah Sakit Uni-Asia pada terapi intervensi minimal invasif. Bagi pasien seperti saya, yang telah dinyatakan tidak lagi memenuhi syarat untuk menjalani operasi dan tidak memiliki pilihan terapi yang lebih baik, pendekatan ini merupakan secercah harapan yang sebelumnya belum pernah saya ketahui.
Setelah keluarga menghubungi Rumah Sakit Uni-Asia, pada hari yang sama rumah sakit segera mengirimkan ambulans untuk menjemput saya. Saat tiba di rumah sakit, saya hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang. Bahkan untuk membalikkan badan pun saya sudah tidak memiliki tenaga. Nyeri yang saya rasakan sangat hebat. Prof. Liao Zhengyin, Prof. Luo Xiaoping, dan dr. Wu Chaobo segera mengadakan rapat MDT guna menyusun rencana terapi intervensi yang dipersonalisasi sesuai kondisi saya. Sejujurnya, saat itu saya tidak sepenuhnya memahami penjelasan medis yang diberikan. Namun ada satu kalimat yang selalu saya ingat, "Ibu Suying, kami masih memiliki harapan. Mari kita hadapi ini bersama."
Pada hari tindakan, saya didorong memasuki ruang operasi dengan tempat tidur pasien. Selama prosedur berlangsung, Prof. Liao Zhengyin terus melakukan tindakan dengan sangat hati-hati sambil menenangkan saya agar tidak merasa cemas. Sesekali saya mendengar para dokter berdiskusi dengan suara pelan dan penuh keyakinan. Seluruh prosedur selesai dalam waktu kurang dari satu jam, dan saya kemudian dipindahkan kembali ke ruang perawatan.
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, fungsi usus saya mulai pulih dengan keluarnya gas. Mungkin terdengar sepele, tetapi saat itu saya hampir menitikkan air mata. Bagi saya, itu adalah tanda bahwa usus saya akhirnya kembali berfungsi. Pada hari kelima, hasil pemeriksaan ulang menunjukkan ukuran tumor telah mengecil secara nyata dibandingkan sebelumnya. Saya diizinkan minum air sedikit dengan selang dekompresi terpasang. Pada hari ketujuh, saya sudah dapat buang air di toilet secara normal. Memasuki hari ke-21, selang dekompresi yang telah saya gunakan selama beberapa bulan akhirnya berhasil dilepas. Selangkah demi selangkah, saya bangkit kembali. Dari seseorang yang hanya bisa terbaring di tempat tidur dan sepenuhnya bergantung pada orang lain, saya kembali dapat berjalan sendiri, makan sendiri, dan menjalani kehidupan saya seperti semula.

Keterangan foto: Kondisi Ibu Suying(duduk di ranjang) saat diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit Uni-Asia.
Kini saya telah kembali ke rumah. Saya bisa makan dengan baik, tidur dengan nyenyak, dan hampir setiap hari kembali berlatih menari bersama teman-teman lama saya. Saat berjalan, sesekali saya teringat masa-masa ketika berdiri di atas panggung. Saya menyadari bahwa hidup sebenarnya seperti sebuah tarian. Terjatuh bukanlah hal yang paling menakutkan. Yang paling menakutkan adalah ketika tidak ada seorang pun yang mengulurkan tangan untuk membantu kita bangkit kembali. Saya sangat bersyukur karena pada masa tergelap dalam hidup saya, para dokter di Rumah Sakit Uni-Asia telah mengulurkan tangan mereka kepada saya. Terima kasih!