MWA memanfaatkan medan elektromagnetik frekuensi tinggi. Medan ini membuat molekul air di jaringan berotasi dengan sangat cepat dan menimbulkan gesekan, sehingga suhu jaringan naik dengan cepat. Dalam hitungan menit, suhu mencapai ambang terjadinya nekrosis koagulatif pada jaringan tumor. Dibandingkan RFA, MWA memiliki laju kenaikan suhu yang lebih cepat dan cakupan area ablasi yang lebih luas. Teknik ini juga kurang terpengaruh oleh karbonisasi jaringan serta “efek heat sink”, sehingga mampu menghancurkan tumor hipervaskular dan tumor berukuran besar secara efisien.
Selama prosedur, satu atau lebih antena mikrowave ditusukkan ke posisi yang telah direncanakan pada lesi di bawah panduan USG maupun CT. Antena kemudian dihubungkan ke unit pembangkit mikrowave, lalu daya dan durasi kerja diatur sesuai perencanaan pra-prosedur. Dalam waktu singkat akan terbentuk lesi ablasi berbentuk hampir bola. Penggunaan beberapa antena secara bersamaan dapat melakukan ablasi sesuai bentuk tumor guna menutupi lesi dengan kontur yang tidak beraturan.
Kenaikan Suhu Cepat, Durasi Terapi Singkat: Suhu tinggi sesaat dapat menginaktivasi tumor dengan cepat. Hal ini memperpendek durasi prosedur dan mengurangi risiko kerusakan jaringan sekitar akibat penyebaran panas.
Cakupan Ablasi Luas, Kurang Terpengaruh Aliran Darah: Medan suhu tinggi yang stabil mampu mengatasi sisa jaringan tumor di tepi lesi akibat pendinginan dari aliran darah pembuluh, sehingga teknik ini lebih unggul untuk penanganan tumor berukuran besar.
Sinergi Multi-Antena, Kemampuan Penyesuaian Bentuk Unggul: Penempatan antena dapat diatur secara fleksibel guna menutupi seluruh batas lesi. Dalam satu sesi terapi, teknik ini dapat menginaktivasi tumor berukuran besar maupun lesi multinodular.
Teknik ini diterapkan secara luas untuk penanganan kanker hati, tumor metastatik hati, kanker paru serta tumor kelenjar adrenal. MWA memiliki keunggulan yang menonjol khususnya pada tumor hipervaskular dengan diameter > 3 cm yang terletak berdekatan dengan pembuluh darah besar. Terapi ini sering dikombinasikan dengan intervensi vaskular maupun imunoterapi.