Implan partikel radioaktif Iodine-125 adalah salah satu metode brakiterapi, di mana sumber radiasi mini tersegel ditanamkan secara presisi ke dalam jaringan tumor. Prinsip kerjanya memanfaatkan sinar gamma berenergi rendah yang dipancarkan secara berkelanjutan saat isotop Iodine-125 mengalami peluruhan. Sinar ini membentuk wilayah dosis radiasi tinggi pada target tumor dan memberikan efek sitotoksik ireversibel terhadap sel tumor di seluruh siklus proliferasi. Karakteristik radiasi yang cepat teredam di jaringan sekitar juga mampu melindungi organ normal secara optimal.
Perencanaan praoperatif disusun secara ketat menggunakan Sistem Perencanaan Terapi Tiga Dimensi (TPS), guna menentukan penataan ruang dan dosis partikel secara terindividualisasi. Selama prosedur, di bawah panduan real-time CT atau USG, partikel berbahan paduan titanium dengan ukuran beberapa milimeter (sebesar butiran beras) ditanamkan secara presisi ke dalam massa tumor menggunakan jarum tusuk khusus sesuai rencana yang telah ditetapkan. Waktu paruh fisik isotop Iodine-125 sekitar 59,4 hari. Teknik ini dapat memberikan iradiasi lokal yang berkelanjutan dan stabil selama beberapa bulan, menutupi siklus penggandaan sel tumor secara efektif serta menurunkan risiko proliferasi ulang sel tumor.
Dosis Tinggi pada Area Target, Paparan Rendah pada Jaringan Normal: Dosis radiasi terpusat sepenuhnya pada lesi target. jaringan sekitar menerima paparan radiasi yang sangat minim, karena sinar radiasi cepat meluruh, sehingga tercapai terapi dengan tingkat presisi yang tinggi.
Tusukan Minimal Invasif, Toleransi Pasien Baik: Prosedur menggunakan jalur tusukan perkutan dengan luka yang sangat kecil. Pasien lanjut usia maupun pasien dengan penyakit penyerta yang tidak mampu menjalani operasi bedah dapat menjalani terapi ini dengan aman.
Iradiasi Berkelanjutan, Efek Biologis Optimal: Radiasi dosis rendah yang diberikan secara terus-menerus mampu menekan proses perbaikan sel pada jeda waktu iradiasi luar fraksional. Metode ini juga efektif untuk penanganan tumor padat yang tumbuh lambat.
Utamanya ditujukan untuk tumor padat yang tidak dapat dieksisi secara bedah kuratif, serta tumor yang mengalami kekambuhan atau metastasis pasca terapi radiasi dan kemoterapi. Contohnya meliputi kanker hati primer, kanker paru non-sel kecil, kanker prostat, kanker pankreas, serta tumor kambuh dan metastasis pada area kepala, leher dan panggul. Terapi ini sering dikombinasikan dengan kemoterapi infus arteri, ablasi, terapi target molekuler maupun imunoterapi guna meningkatkan tingkat kontrol lokal tumor secara sinergis, memperpanjang masa kelangsungan hidup dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Teknik ini diterapkan dengan mematuhi standar proteksi radiasi secara ketat. Keamanannya telah teruji secara luas dan menjadi sarana kontrol lokal yang andal dalam penanganan terpadu tumor.