- Jenis Kanker
- Kanker Tiroid
Kanker Tiroid
Kanker tiroid merupakan tumor ganas yang paling sering ditemukan pada sistem endokrin dan lebih banyak terjadi pada wanita. Penyakit ini didominasi oleh jenis karsinoma papiler yang berdiferensiasi baik dengan prognosis yang sangat baik, sehingga sering kali dijuluki sebagai “kanker malas”. Meskipun demikian, subtipe karsinoma tiroid anaplastik memiliki sifat yang sangat agresif, sehingga diagnosis dan tata laksana yang sesuai standar tetap mutlak diperlukan.

Faktor Risiko
·Paparan radiasi pengion pada area kepala dan leher selama masa anak-anak
·Riwayat keluarga dengan kanker tiroid dan adanya mutasi gen RET
·Asupan iodium yang tidak normal (terlalu tinggi atau terlalu rendah)
·Obesitas
·Tiroiditis Hashimoto
Etiologi
Radiasi pengion dapat menyebabkan penataan ulang gen RET atau mutasi BRAF, yang selanjutnya mengaktivasi jalur pensinyalan MAPK. Sekitar 5% hingga 10% kasus bersifat herediter yang melibatkan berbagai mutasi gen lini sel nutfah. Sementara itu, asupan iodium yang tidak tepat dapat memicu hiperplasia pada jaringan tiroid dan mengakibatkan akumulasi mutasi genetik.
Gejala
Gejala yang paling sering ditemukan adalah adanya benjolan pada leher yang tidak terasa nyeri dan ikut bergerak saat menelan. Ketika ukuran benjolan membesar, tumor dapat menekan trakea atau esofagus sehingga menyebabkan kesulitan bernapas dan kesulitan menelan. Jika tumor menginvasi saraf laring rekuren, pasien akan mengalami suara serak. Namun, sebagian besar kasus ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan USG rutin.
Rencana Pengobatan
·Operasi: Tindakan tiroidektomi parsial atau tiroidektomi total merupakan metode kuratif utama. Ditangani diseksi kelenjar getah bening kompartemen sentral atau lateral leher berdasarkan penilaian risiko.
·Terapi Minimal Invasif: Prosedur ablasi frekuensi radio atau ablasi gelombang mikro dengan panduan USG dapat digunakan untuk menangani kanker tiroid mikro, lesi rekuren, atau pasien yang tidak dapat menjalani operasi. Keunggulan metode ini adalah tidak meninggalkan bekas luka pada leher dan tetap mempertahankan fungsi normal kelenjar tiroid.
·Radioterapi dan Kemoterapi: Terapi iodium radioaktif (Iodium-131) pascaoperasi digunakan untuk mengablasi sisa jaringan tiroid normal serta mengatasi lesi metastasis mikro. Bagi pasien dengan kondisi kanker tiroid refrakter iodium, tindakan radioterapi dapat dipertimbangkan.
·Terapi Target dan Imunoterapi: Penggunaan obat terapi target yang menyasar gen penggerak seperti RET dan BRAF diindikasikan untuk kasus stadium lanjut yang sudah refrakter terhadap terapi iodium radioaktif.
·Lain-lain: Terapi supresi hormonal dilakukan untuk mempertahankan kadar TSH tetap rendah guna meminimalkan risiko kekambuhan.
Pemeriksaan dan Diagnosis
Skrining awal dilakukan menggunakan USG resolusi tinggi yang dikombinasikan dengan sistem stratifikasi risiko TI-RADS. Diagnosis pasti ditegakkan melalui prosedur biopsi aspirasi jarum halus dengan panduan USG. Pemeriksaan kadar kalsitonin darah dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma tiroid meduler. Pascapembedahan, memantau berkala terhadap kadar tiroglobulin dan antibodi tiroglobulin.