- Jenis Kanker
- Glioma Otak
Glioma Otak
Ringkasan
Glioma merupakan tumor ganas intrakranial primer yang paling sering ditemukan dan memiliki tingkat mortalitas yang sangat tinggi. Terdapat perbedaan prognosis yang sangat signifikan antara glioma derajat rendah dan derajat tinggi . Saat ini, klasifikasi berdasarkan profil molekuler telah menjadi panduan utama yang sangat krusial dalam menentukan strategi terapi serta memprediksi prognosis pasien secara akurat.
Faktor Risiko
·Paparan radiasi pengion dosis tinggi (satu-satunya faktor lingkungan yang telah terbukti secara ilmiah)
·Sindrom genetik herediter, seperti Neurofibromatosis
·Riwayat keluarga dengan glioma
·Paparan kerja terhadap zat kimia berbahaya, seperti pestisida tertentu
·Angka kejadian pada laki-laki lebih tinggi
Etiologi
Mutasi pada gen IDH1/2 merupakan faktor penggerak inti pada glioma derajat rendah, yang memicu terjadinya hipermetilasi di seluruh genom. Sementara itu, glioblastoma ditandai dengan adanya amplifikasi gen EGFR dan delesi gen PTEN, yang disertai dengan pembentukan neovaskularisasi yang sangat masif.
Gejala
Gejala yang paling sering ditemukan adalah tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial, seperti cephalgia persisten yang memberat pada pagi hari, mual, dan muntah proyektil. Sekitar 40% pasien datang dengan keluhan kejang. Selain itu, dapat muncul defisit neurologis fokal yang bervariasi tergantung lokasi tumor, seperti hemiparesis, kesulitan bicara, dan gangguan penglihatan.
Rencana Pengobatan
·Operasi: Reseksi bedah seoptimal mungkin secara aman merupakan pilihan utama, yang dapat didukung dengan teknologi navigasi intraoperatif dan pelacak fluoresensi untuk meningkatkan tingkat keberhasilan pengangkatan tumor.
·Terapi Minimal Invasif: Untuk lesi kecil di area dalam yang tidak memungkinkan untuk menjalani kraniotomi, prosedur bedah radioserebral stereotaktik atau teknik intervensi perkutan seperti ablasi frekuensi radio dan ablasi gelombang mikro dapat dipertimbangkan. Sementara itu, terapi termal interstisial laser dapat digunakan sebagai modalitas sitoreduksi minimal invasif.
·Kemoterapi dan Radioterapi: Kombinasi kemoradioterapi simultan pascaoperasi yang dilanjutkan dengan kemoterapi ajuvan merupakan regimen standar emas untuk tata laksana glioma derajat tinggi.
·Terapi Target dan Imunoterapi: Pemilihan terapi target disesuaikan berdasarkan status mutasi IDH dan metilasi promotor MGMT. Sementara itu, terapi immune checkpoint inhibitor memberikan manfaat klinis pada sebagian kecil kasus.
·Lain-lain: Penambahan terapi medan listrik tumor dapat memperpanjang angka harapan hidup pasien; sedangkan tata laksana paliatif untuk meredakan gejala meliputi terapi hormon untuk mengendalikan edemaserta terapi antiepilepsi.
Pemeriksaan dan Diagnosis
MRI kepala dengan kontras merupakan pilihan utama, yang didukung oleh teknik pencitraan multimodal untuk membantu perencanaan tindak bedah. Biopsi stereotaktik dilakukan untuk mendapatkan sampel patologi, sementara pemeriksaan molekuler seperti IDH, 1p/19q, dan MGMT digunakan sebagai panduan terapi.