- Jenis Kanker
- Kanker Saluran Empedu
Kanker Saluran Empedu
Kanker saluran empedu merupakan kanker invasif langka yang berasal dari sel epitel saluran empedu. Berdasarkan lokasi anatomisnya, penyakit ini diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu: kolangiokarsinoma intrahepatik, perihiler, dan distal. Angka kejadian global menunjukkan tren yang terus meningkat, di mana wilayah Asia memiliki insidensi yang relatif lebih tinggi akibat faktor-faktor seperti infeksi cacing hati. Penyakit ini berkembang secara sangat tersembunyi, serta minim gejala klinis awal dan indikator penapisan yang efektif. Akibatnya, lebih dari 65% pasien sudah berada pada stadium yang tidak dapat direseksi saat pertama kali terdiagnosis, dengan masa kelangsungan hidup median kurang dari dua tahun. Meskipun demikian, dalam beberapa tahun terakhir, kehadiran terapi target yang menyasar alterasi genetik spesifik serta teknik minimal invasif untuk menurunkan kadar bilirubin telah memberikan harapan hidup baru bagi pasien stadium lanjut.
Faktor Risiko
·Kolangitis Sklerosing Primer, dengan risiko seumur hidup menderita kanker sekitar 10%~15%
·Infeksi cacing hati Clonorchis sinensis atau Opisthorchis viverrini
·Kista koledokus kongenital dan penyakit Caroli
·Hepatolitiasis dan kolangitis piogenik berulang
·Infeksi virus hepatitis B (HBV) atau hepatitis C (HCV), serta sirosis hati
·Sindrom metabolik, diabetes melitus, dan penyakit hati berlemak non-alkohol
Etiologi
Inflamasi kronis pada saluran empedu menyebabkan kerusakan dan perbaikan epitel empedu yang terjadi berulang kali, yang pada gilirannya memicu akumulasi mutasi genetik. Profil genetik kolangiokarsinoma berbeda-beda tergantung pada lokasinya. Pada kolangiokarsinoma intrahepatik, mutasi IDH1/2 dan fusi gen FGFR2 lebih sering ditemukan, sedangkan pada kolangiokarsinoma ekstrahepatik, mutasi KRAS dan TP53 lebih mendominasi. Infeksi cacing hati memicu inflamasi kronis melalui trauma mekanis dari tubuh cacing dan keberadaan telur cacing, yang menghasilkan spesies oksigen reaktif serta metabolit karsinogenik. Sementara itu, pada kondisi primary sclerosing cholangitis, aktivasi berkelanjutan pada jalur pensinyalan inflamasi autoimun meningkatkan risiko terjadinya keganasan secara signifikan.
Gejala
Pada kolangiokarsinoma ekstrahepatik, gejala ikterus obstruktif yang bersifat progresif tanpa disertai rasa nyeri dapat muncul sejak stadium awal. Gejala ini ditandai dengan urine yang berwarna pekat seperti teh tua, tinja berwarna pucat seperti dempul, serta pruritus seluruh tubuh yang bersifat refrakter. Sebaliknya, kolangiokarsinoma intrahepatik lebih sering menunjukkan gejala yang tidak spesifik, seperti nyeri tumpul pada perut kanan atas, keletihan, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan, di mana gejala ikterus atau massa yang dapat diraba pada area hati baru muncul saat stadium lanjut. Apabila kondisi ini disertai komplikasi kolangitis, pasien akan menunjukkan Trias Charcot, yaitu: demam berulang, menggigil, dan nyeri perut kanan atas.
Rencana Pengobatan
·Operasi: Prosedur eksisi bedah radikal yang bertujuan untuk mencapai batas sayatan negatif merupakan satu-satunya modalitas tata laksana kuratif utama. Pada sebagian kecil pasien kolangiokarsinoma perihiler stadium awal yang memenuhi kriteria seleksi yang sangat ketat, prosedur transplantasi hati yang dikombinasikan dengan kemoradioterapi neoadjuvan dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan efikasi klinis.
·Terapi Minimal Invasif: Pemasangan stent plastik atau stent logam yang dapat mengembang sendiri dapat dilakukan melalui prosedur ERCP atau PTCD untuk segera mengatasi obstruksi biliaris dan meredakan ikterus. Prosedur ablasi frekuensi radio endoluminal atau terapi fotodinamik menggunakan energi yang dihantarkan melalui kolangioskop dapat menghancurkan tumor secara lokal sekaligus memperpanjang masa patensi stent. Untuk lesi yang terlokalisasi di dalam hati, tindakan ablasi gelombang mikro atau radioembolisasi arteri hati dengan panduan pencitraan dapat diterapkan.
·Kemoterapi dan Radioterapi: Kemoradioterapi simultan lokal ditujukan bagi kasus stadium lanjut lokal yang tidak dapat direseksi guna mengontrol pertumbuhan tumor dan meredakan nyeri. Sementara itu, regimen kemoterapi sistemik berbasis kombinasi dua obat golongan platinum menjadi terapi standar lini pertama untuk stadium lanjut guna memperpanjang kelangsungan hidup dan memperbaiki gejala.
·Terapi Target dan Imunoterapi: Obat terapi target yang menyasar gen penggerak seperti fusi FGFR2, mutasi IDH1, dan mutasi BRAF V600E telah mendapatkan persetujuan indikasi klinis. Penggunaan obat penghambat pos pemeriksaan imun juga menunjukkan efikasi pada pasien dengan status Deficient Mismatch Repair atau beban mutasi tumor yang tinggi.
·Lain-lain: Tindakan drainase empedu yang adekuat, proteksi fungsi hati, kontrol infeksi, serta dukungan nutrisi yang agresif wajib diberikan di sepanjang seluruh tahapan pengobatan. Terapi simtomatik juga diberikan untuk mengatasi pruritus refrakter guna meningkatkan kualitas hidup pasien.
Pemeriksaan dan Diagnosis
Cholangiopancreatography merupakan pilihan utama non-invasif yang dapat menunjukkan adanya penebalan dinding saluran empedu, serta penyempitan atau penyumbatan pada lumen saluran. Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP) dan Percutaneous Transhepatic Cholangiography (PTC) dapat dilakukan sekaligus untuk mengambil sampel sitologi atau spesimen biopsi. Selain itu, Endoscopic Ultrasound-Guided Fine Needle Aspiration (EUS-FNA) dapat meningkatkan akurasi hasil patologi. Pemeriksaan kadar CA19-9 dan CEA digunakan sebagai penanda tumor untuk diagnosis penunjang serta pemantauan, dengan catatan harus menyingkirkan kemungkinan hasil positif palsu yang disebabkan oleh obstruksi bilier jinak.