- Jenis Kanker
- Kanker Nasofaring
Kanker Nasofaring
Kanker nasofaring memiliki karakteristik epidemiologi berupa batasan geografis yang sangat jelas, dengan insidensi yang tinggi di wilayah Tiongkok Selatan dan Asia Tenggara. Infeksi EBV merupakan etiologi paling utama dari penyakit ini. Radioterapi menjadi modalitas tata laksana kuratif utama, di mana tingkat kelangsungan hidup secara keseluruhan dapat mencapai lebih dari 80%. Meskipun demikian, kewaspadaan terhadap risiko kekambuhan lokal serta metastasis jauh tetap mutlak diperlukan.
Faktor Risiko
·Infeksi virus EBV
·Latar belakang genetik Tiongkok Selatan dan genotipe HLA spesifik
·Konsumsi ikan asin dan makanan yang mengandung nitrit
·Paparan asap rokok dan formaldehida
·Agregasi familial
Etiologi
Protein membran laten dari virus EBV mengaktivasi jalur pensinyalan NF-κB. Memicu transformasi keganasan pada sel epitel nasofaring.
Gejala
Gejala klinis yang paling sering ditemukan adalah limfadenopati pada leher yang tidak disertai rasa nyeri. Gejala peringatan dini yang khas meliputi post-nasal sanguinous discharge, rasa tersumbat pada salah satu telinga, serta penurunan fungsi pendengaran. Pada stadium lanjut, dapat muncul manifestasi berupa hidung tersumbat, sakit kepala, diplopia, dan kebas pada area wajah.
Rencana Pengobatan
·Operasi: Tindakan pembedahan berupa reseksi melalui panduan endoskopi nasofaring dapat dipertimbangkan khusus untuk kasus dengan lesi lokal kecil yang mengalami kekambuhan. Sementara itu, prosedur diseksi leher dilakukan apabila terdapat sisa sel kanker atau kekambuhan pada kelenjar getah bening leher.
·Terapi Minimal Invasif: Untuk penanganan lesi rekuren lokal pada nasofaring, prosedur implasasi partikel Iodium-125 dapat diterapkan sebagai modalitas radioterapi jarak pendek . Selain itu, prosedur ablasi frekuensi radio atau ablasi gelombang mikro dengan panduan pencitraan dapat digunakan untuk mengatasi lesi rekuren yang bersifat soliter.
·Kemoterapi dan Radioterapi: Radioterapi bermodulasi intensitas yang dikombinasikan dengan kemoterapi sekuensial merupakan pilar utama tata laksana kuratif. Sementara itu, kemoterapi induksi dan kemoterapi ajuvan ditujukan untuk penanganan kasus stadium lanjut lokal.
·Terapi Target dan Imunoterapi: Penggunaan obat penghambat pos pemeriksaan imun telah menunjukkan efikasi klinis yang baik pada kasus kanker nasofaring yang mengalami kekambuhan maupun metastasis.
·Lain-lain: Pemantauan DNA EBV dilakukan untuk menilai efikasi terapi dan tindak lanjut; sementara itu, dukungan nutrisi serta perlindungan fungsi oral dan pendengaran wajib diberikan secara komprehensif di sepanjang seluruh tahapan tata laksana.
Pemeriksaan dan Diagnosis
Diagnosis pasti ditegakkan melalui pemeriksaan endoskopi nasofaring yang disertai dengan biopsi. Pemeriksaan kuantitatif DNA EBV plasma merupakan indikator yang sensitif untuk skrining dan pemantauan. MRI kepala-leher menjadi modalitas terbaik untuk penentuan stadium lokal. Sementara itu, PET-CT digunakan untuk mengevaluasi metastasis jauh.