- Jenis Kanker
- Kanker Ginjal
Kanker Ginjal
Kanker ginjal berasal dari sel epitel tubulus proksimal ginjal, di mana jenis karsinoma sel jernih merupakan histopatologi yang paling sering ditemukan. Pada stadium awal, penyakit ini umumnya tidak menimbulkan gejala klinis dan lebih sering ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan kesehatan rutin. Kanker ginjal stadium terlokalisasi dapat disembuhkan melalui tindakan pembedahan, sedangkan kasus stadium lanjut memerlukan kombinasi terapi target dan imunoterapi yang komprehensif.
Faktor Risiko
·Merokok (faktor risiko yang paling diakui dan dapat dikendalikan)
·Obesitas dan hipertensi
·Mutasi genetik herediter, seperti Sindrom Von Hippel-Lindau (VHL) dan lainnya
·Riwayat menjalani dialisis jangka panjang
·Diabetes melitus
·Jenis kelamin laki-laki dan pertambahan usia
Etiologi
Merokok dan obesitas memicu stres oksidatif serta mutasi gen yang diinduksi oleh hipoksia. Penonaktifan gen VHL merupakan kondisi yang paling sering ditemukan, yang menyebabkan akumulasi HIF-α sehingga merangsang proses angiogenesis. Sekitar 3% hingga 5% kasus bersifat herediter.
Gejala
Trias klasik kanker ginjal, yaitu hematuria, nyeri pinggang, dan massa yang dapat diraba hanya ditemukan pada sebagian kecil pasien stadium lanjut. Mayoritas pasien datang dengan manifestasi berupa hematuria makroskopis yang bersifat intermiten tanpa disertai rasa nyeri, serta nyeri tumpul pada area pinggang. Selain itu, dapat ditemukan sindrom paraneoplastik yang bermanifestasi sebagai demam, hipertensi, dan hiperkalsemia.
Rencana Pengobatan
·Operasi: Pada stadium awal hingga menengah, dilakukan prosedur nefrektomi parsial dengan prinsip mempertahankan nefron. Jika nefrektomi parsial tidak memungkinkan, maka dilakukan tindakan nefrektomi radikal
·Terapi Minimal Invasif: Bagi pasien dengan kanker ginjal ukuran kecil yang tidak ideal untuk menjalani operasi, opsi terapi yang dapat dipilih meliputi ablasi frekuensi radio, ablasi gelombang mikro, atau krioablasi melalui prosedur perkutan untuk mengeradikasi tumor secara presisi. Selain itu, prosedur elektroporasi ireversibel juga dapat digunakan untuk melindungi struktur jaringan di sekitarnya.
·Kemoterapi dan Radioterapi: Radioterapi digunakan sebagai terapi paliatif untuk meredakan gejala pada kondisi seperti metastasis tulang; sementara itu, kemoterapi konvensional memiliki efikasi yang terbatas.
·Terapi Target dan Imunoterapi: Kombinasi antara obat terapi target anti-angiogenesis dengan obat penghambat pos pemeriksaan imun telah menjadi standar terapi lini pertama untuk kasus stadium lanjut, yang terbukti memperpanjang masa kelangsungan hidup pasien secara signifikan.
·Lain-lain: Strategi pemantauan aktif yang ketat dapat diterapkan pada tumor berkategori risiko rendah dengan ukuran kurang dari 2 cm. Untuk kasus dengan metastasis tulang, terapi dapat ditunjang dengan pemberian agen pemodifikasi tulang.
Pemeriksaan dan Diagnosis
CT scan kontras merupakan baku emas untuk penegakan diagnosis, dengan karakteristik pola penyangatan “wash-in and wash-out” yang cepat sebagai gambaran tipikalnya. Prosedur MRI digunakan bagi pasien yang memiliki riwayat alergi iodium. Sementara itu, biopsi aspirasi diindikasikan untuk pasien yang bukan kandidat pembedahan, dan CT scan toraks dilakukan untuk mengevaluasi metastasis paru.