- Jenis Kanker
- Kanker Kandung Kemih
Kanker Kandung Kemih
Sebagian besar kasus kanker kandung kemih merupakan karsinoma urothelia. Penyakit ini menempati peringkat kesepuluh sebagai tumor ganas dengan insidensi tertinggi di dunia, di mana angka kejadian pada pria sekitar 3 hingga 4 kali lipat lebih tinggi dibandingkan pada wanita. Merokok merupakan faktor risiko utama. Berdasarkan kedalaman invasi tumor, kanker kandung kemih diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu: kanker kandung kemih non-invasi otot dan kanker kandung kemih invasi otot. Meskipun jenis pertama tidak mengancam jiwa secara langsung, angka kekambuhannya sangat tinggi hingga mencapai 50%-70%, sehingga memerlukan pemantauan jangka panjang. Sementara itu, jenis yang kedua sangat rentan mengalami metastasis dan menurunkan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun secara signifikan. Gejala hematuria tanpa rasa nyeri merupakan petunjuk awal yang paling krusial; setiap kasus hematuria makroskopis yang tidak diketahui penyebabnya harus segera diperiksa untuk menyingkirkan kemungkinan kanker kandung kemih.
Faktor Risiko
·Merokok (sekitar 50% kasus kanker kandung kemih disebabkan oleh faktor ini).
·Paparan kerja terhadap zat kimia golongan amina aromatik, seperti industri pewarna, karet, kulit, cat, dll.
·Infeksi saluran kemih kronis dan penggunaan kateter urine dalam jangka panjang.
·Riwayat kemoterapi menggunakan siklofosfamid atau radioterapi pada area panggul.
·Infeksi cacing Schistosoma di beberapa wilayah geografis (tingginya insidensi karsinoma sel skuamosa di wilayah Mesir).
·Kontaminasi arsenik pada air minum dan adanya predisposisi genetik.
Etiologi
Metabolit dari tembakau serta amina aromatik industri diekskresikan oleh ginjal ke dalam urine. Zat-zat ini melakukan kontak langsung dalam durasi yang lama dengan epitel urothelia, sehingga membentuk ikatan aduk DNA yang memicu mutasi gen seperti FGFR3, TP53, dan HRAS. Mutasi aktivasi FGFR3 umumnya ditemukan pada tumor derajat rendah dan non-invasif, sedangkan mutasi atau delesi TP53 lebih sering dijumpai pada karsinoma invasi otot derajat tinggi. Di sisi lain, deposisi jangka panjang dari telur cacing Schistosoma memicu stimulasi kronis yang menyebabkan metaplasia skuamosa dan inflamasi kronis, yang kemudian berkembang menjadi karsinoma sel skuamosa.
Gejala
Sekitar 85% pasien datang dengan gejala awal berupa hematuria makroskopis seluruh fase yang bersifat intermiten dan tidak disertai rasa nyeri. Perdarahan ini sering kali berhenti secara spontan, sehingga mudah menimbulkan asumsi keliru bahwa penyakit telah “sembuh dengan sendirinya”. Beberapa pasien juga mengeluhkan gejala iritasi kandung kemih, seperti frekuensi berkemih meningkat, urgensi berkemih, dan rasa menyengat/terbakar saat berkemih, yang terutama sering terjadi pada kasus karsinoma in situ. Jika ukuran tumor cukup besar atau terjadi gumpalan darah, saluran keluar kandung kemih dapat tersumbat, menyebabkan kesulitan berkemih hingga retensi urine akut. Pada stadium lanjut saat tumor telah menginvasi organ sekitar, akan muncul gejala nyeri panggul, hidronefrosis, edema tungkai bawah, serta nyeri pinggang dan punggung.
Rencana Pengobatan
·Operasi: Untuk kasus NMIBC, dilakukan tindakan reseksi tumor kandung kemih transuretra, di mana penyayatan harus mencapai lapisan otot kandung kemih untuk memastikan akurasi penahapan. Untuk kasus MIBC, standar terapi utamanya adalah sistektomi radikal total yang disertai diseksi kelenjar getah bening pelvis, dilanjutkan dengan prosedur diversifikasi urine atau rekonstruksi neobladder ortotopik.
·Terapi Minimal Invasif: Prosedur enukleasi transuretra atau vaporisasi menggunakan teknologi laser dapat mengeksisi tumor secara presisi dengan risiko perdarahan dan perforasi yang rendah. Pascaoperasi, terapi instilasi intravesikal menggunakan agen kemoterapi atau agen imunoterapi dilakukan guna menurunkan risiko kekambuhan dan progresivitas tumor secara signifikan. Bagi pasien yang tidak dapat mentoleransi operasi radikal, tindakan TURBT maksimal yang dikombinasikan dengan terapi komprehensif lanjutan dapat menjadi strategi untuk mempertahankan organ kandung kemih. Pada pasien stadium lanjut, tindakan endoskopi dapat digunakan untuk kontrol gejala seperti hemostasis, evakuasi gumpalan darah, atau reseksi paliatif.
·Kemoterapi dan Radioterapi: Kemoterapi dan Radioterapi simultan berbasis cisplatin merupakan komponen penting dalam strategi mempertahankan organ kandung kemih pada pasien MIBC. Terapi radiasi juga digunakan sebagai terapi ajuvan pascaoperasi untuk mengontrol kekambuhan lokal serta sebagai terapi paliatif untuk meredakan gejala pada metastasis tulang.
·Terapi Target dan Imunoterapi: Obat penghambat FGFR diindikasikan untuk kasus karsinoma urothelia stadium lanjut yang memiliki alterasi gen terkait. Selain itu, obat penghambat pos pemeriksaan imun menunjukkan efikasi dan respons yang bertahan lama pada kasus yang refrakter terhadap platinum serta digunakan sebagai terapi pemeliharaan lini pertama. Senyawa konjugat obat-antibodi juga menjadi pilihan baru untuk terapi lini lanjutan.
·Lain-lain: Pemeriksaan sistoskopi berkala dan pemantauan sitologi urine merupakan inti dari manajemen pascaoperasi kasus NMIBC. Dukungan nutrisi serta panduan perawatan stoma juga sangat penting untuk membantu pasien beradaptasi dalam kehidupan sehari-hari.
Pemeriksaan dan Diagnosis
Pemeriksaan sistoskopi dan biopsi merupakan dasar penegakan diagnosis, karena dapat memvisualisasikan jumlah, ukuran, morfologi, serta lokasi tumor secara langsung. Pemeriksaan sitologi eksfoliatif urine dan uji molekuler seperti FISH digunakan sebagai pemeriksaan penunjang, terutama efektif untuk mendeteksi karsinoma in situ. Pemeriksaan USG dan CT uroografi dilakukan untuk mengevaluasi apakah terdapat keterlibatan tumor pada saluran kemih bagian atas. Sementara itu, pemeriksaan MRI memiliki akurasi yang tinggi untuk penahapan stadium lokal. Kelompok populasi berisiko tinggi (perokok jangka panjang atau pekerja dengan paparan zat kimia industri) yang mengalami gejala hematuria harus segera melakukan pemeriksaan medis.