- Jenis Kanker
- Multiple Myeloma
Multiple Myeloma
Multiple myeloma merupakan keganasan hematologi yang ditandai dengan proliferasi maligna dari sel plasma. Di wilayah Asia, insidensi penyakit ini berkisar antara 1 hingga 2 kasus per 100.000 penduduk, menempati peringkat kedua di antara keganasan hematologi lainnya. Gejala tipikal CRAB, seperti hiperkalsemia, gangguan ginjal, anemia, dan penyakit tulang merupakan tanda khas dari penyakit ini. Sementara itu, iterasi obat-obatan baru telah meningkatkan angka harapan hidup pasien secara signifikan.
Faktor Risiko
·Obesitas (meningkatkan risiko hingga 1,5 kali lipat)
·Usia lanjut (lebih sering terjadi pada usia lebih dari 65 tahun)
·Insidensi sedikit lebih tinggi pada pria
·Paparan okupasional terhadap pestisida dan zat kimia sejenis
·Penyakit autoimun kronis
·Infeksi virus seperti HCV dan HIV
Etiologi
Perubahan pada mikrolingkungan sumsum tulang memicu sel plasma mengalami kelainan genetik, seperti translokasi IGH dan hiperdiploidi, yang kemudian diikuti oleh mutasi sekunder pada gen MYC dan RAS yang mendorong proliferasi klonal ganas. Selain itu, sitokin yang disekresikan oleh jaringan adiposa serta lingkungan inflamasi ikut berperan dalam mempercepat progresi penyakit ini.
Gejala
Nyeri tulang merupakan gejala yang paling sering ditemukan, terutama dirasakan pada area punggung dan tulang rusuk, serta sangat rentan menyebabkan fraktur patologis. Kondisi hiperkalsemia dapat menyebabkan mual, konstipasi, dan gangguan psikiatri. Gangguan fungsi ginjal bersifat progresif, sementara kondisi anemia bermanifestasi sebagai keletihan dan pucat. Selain itu, infeksi yang terjadi secara berulang juga merupakan manifestasi klinis yang umum dijumpai.
Rencana Pengobatan
·Operasi: Prosedur ini biasanya tidak digunakan sebagai modalitas utama; tindakan fiksasi interna atau vertebroplasti dilakukan pada kasus fraktur patologis untuk menstabilkan tulang belakang.
·Terapi Minimal Invasif: Untuk kasus plasmositoma soliter pada tulang atau nyeri tulang yang refrakter, prosedur ablasi frekuensi radio atau ablasi gelombang mikro dengan panduan pencitraan dapat diterapkan untuk mengurangi massa tumor secara presisi dan meredakan nyeri. Prosedur bedah minimal invasif seperti vertebroplasti juga digunakan untuk menstabilkan korpus vertebra.
·Radioterapi dan Kemoterapi: Regimen kemoterapi yang dikombinasikan dengan obat imonomodulator target merupakan pilar utama pengobatan. Radioterapi lokal ditujukan untuk meredakan nyeri tulang dan mengatasi kompresi korda spinalis pada vertebra.
·Terapi Target dan Imunoterapi: Inhibitor proteasom, agen imunomodulator, antibodi monoklonal, serta terapi CAR-T (menargetkan BCMA) secara signifikan meningkatkan tingkat remisi kedalaman dan angka harapan hidup pasien.
·Lain-lain: Transplantasi sel punca hematopoetik ditujukan bagi pasien usia muda yang memenuhi kriteria. Pemberian agen pemodifikasi tulang dilakukan untuk mengurangi kejadian terkait skeletal, serta didukung dengan hidrasi dan terapi anti-infeksi.
Pemeriksaan dan Diagnosis
Aspirasi dan biopsi sumsum tulang menunjukkan persentase sel plasma klonal lebih dari atau sama dengan 10%. Elektroforesis protein serum dan elektroforesis imunofiksasi dilakukan untuk mendeteksi protein M. Pemeriksaan rantai ringan bebas serum digunakan untuk meningkatkan akurasi diagnosis. Metode pencitraan seperti CT scan seluruh tubuh dosis rendah atau PET-CT dilakukan untuk mengevaluasi penyakit tulang. Sementara itu, pemeriksaan sitogenetika FISH digunakan untuk stratifikasi prognosis.