- Kisah pasien
- 包冰
*Ketika tampaknya tidak ada lagi pilihan……selalu ada secercah harapan*
Beberapa pasien tidak langsung datang ke Rumah Sakit Uni-Asia begitu didiagnosis.
Mereka telah melalui perjalanan panjang dalam mencari pengobatan.
Telah menjalani operasi.
Telah menjalani kemoterapi.
Telah menjalani radioterapi.
Telah menjalani imunoterapi.
Pernah menaruh seluruh harapan pada metode pengobatan tercanggih.
Namun, kondisi penyakitnya terus memburuk.
Inilah kisah seorang wanita berusia 38 tahun.
Beberapa bulan lalu, ia didiagnosis menderita kanker paru-paru dan menjalani operasi pengangkatan tumor. Seluruh keluarganya berharap kondisinya akan membaik secara bertahap setelah operasi.
Namun, pada pemeriksaan lanjutan berikutnya, hasil pemeriksaan justru membawa kabar buruk yang tidak diinginkan siapa pun.
Tumor telah menyebar ke *lobus kaudatus (caudate lobe)*—bagian yang terletak jauh di dalam hati, berdekatan dengan pembuluh darah besar, dan dianggap sebagai salah satu area yang paling sulit untuk diobati.
Ia kemudian menjalani kemoterapi, radioterapi, serta imunoterapi, dengan harapan dapat mengendalikan penyakitnya.
Namun, seiring berjalannya waktu, kondisinya justru terus memburuk.
Tumor tersebut tidak menyusut seperti yang diharapkan.
Karena lokasi lesi yang khusus, para ahli bedah menilai risiko operasi sangat tinggi, sehingga tidak lagi cocok untuk dilakukan pengangkatan.
Yang paling membuatnya lelah bukanlah hanya hasil pemeriksaan tersebut.
Melainkan rasa sakit yang semakin parah.
Mual dan muntah yang tak henti-hentinya membuatnya hampir tidak bisa makan dengan normal.
Setiap hari yang dilaluinya menjadi perjuangan yang berat.
Tepat ketika dia hampir tidak tahu harus meminta bantuan ke mana, keluarganya, setelah mencari informasi dari berbagai pihak, membawanya ke *Rumah Sakit Uni-Asia*, agar tim ahli dapat mengevaluasi kembali kondisi kesehatannya secara menyeluruh.
Di sini, komite ahli menelaah dengan cermat riwayat medisnya, hasil CT dan MRI, serta hasil pengobatan sebelumnya. Berbekal pengalaman yang kaya dalam menangani kasus kanker kompleks menggunakan teknik intervensi minimal invasif, para dokter berpendapat bahwa meskipun operasi sudah tidak lagi menjadi pilihan, pasien masih dapat mempertimbangkan opsi pengobatan lain.
Setelah konsultasi yang cermat, tim medis memutuskan untuk melakukan terapi *Cryoablation Tumor Multi-Jarum*.
Di bawah panduan sistem pencitraan modern, jarum terapi dimasukkan secara presisi ke dalam tumor.
Dengan menghasilkan suhu yang sangat rendah untuk membentuk “bola es” yang menutupi seluruh area lesi, prosedur ini bertujuan untuk menghancurkan sel-sel tumor di tempatnya, sekaligus meminimalkan dampak pada jaringan hati sehat di sekitarnya.
Prosedur berjalan lancar.
Tidak terjadi perdarahan atau komplikasi yang signifikan selama proses pengobatan.
Dua minggu kemudian, pasien menjalani pemeriksaan pencitraan resonansi magnetik (MRI) untuk mengevaluasi hasil pengobatan.
Hasil pencitraan menunjukkan bahwa area tumor telah *sepenuhnya mengalami nekrosis* setelah *terapi intervensi*.
Yang lebih penting lagi, rasa sakit hebat yang sebelumnya membuatnya sulit tidur kini telah berkurang secara signifikan.
Gejala muntah juga tidak lagi separah sebelumnya.
Pola makannya membaik, dan aktivitas sehari-harinya pun menjadi lebih mudah.
Bagi pasien dan keluarganya, hal yang paling berharga bukan hanya hasil pemeriksaan pencitraan, melainkan kesempatan yang diperoleh pasien untuk meningkatkan kualitas hidupnya, serta dapat melanjutkan perjalanan pengobatannya dengan sikap yang lebih positif.
Menurut para ahli dari *Rumah Sakit Uni-Asia*, lobus ekor hati selalu menjadi salah satu area yang paling sulit ditangani dalam pengobatan bedah, karena lokasinya yang dalam, dekat dengan pembuluh darah besar, dan struktur anatominya yang kompleks.

Namun, seiring perkembangan kedokteran intervensi, teknik minimal invasif seperti krioterapi tumor dapat menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan jika dinilai sesuai. Keunggulannya terletak pada kemampuan untuk meminimalkan kerusakan pada jaringan normal, mengurangi rasa sakit pascaoperasi, serta waktu pemulihan yang relatif lebih cepat.
Untuk mengambil keputusan pengobatan pada kasus-kasus rumit semacam ini, Rumah Sakit Uni-Asia telah mengumpulkan tim ahli yang berpengalaman di bidang onkologi dan kedokteran intervensi, termasuk:
* *Profesor Liao Zhengyin* — Ahli terkemuka di bidang onkologi, dengan pengalaman bertahun-tahun dalam menangani kanker kompleks.
* *Profesor Zhang Jinshan* — Salah satu pakar pelopor di bidang radiologi intervensi Tiongkok, yang sangat berpengalaman dalam menangani tumor yang sulit diobati.
* *Profesor Xiao Yueyong* — Pakar terkemuka di bidang terapi intervensi dan teknologi minimal invasif, yang telah terlibat dalam penanganan banyak kasus kanker stadium lanjut.
Kerja sama yang erat antar-spesialis dari berbagai disiplin ilmu memastikan setiap pasien dapat memperoleh rencana pengobatan yang disesuaikan secara individual, berdasarkan lokasi tumor, stadium penyakit, kondisi fisik, serta tujuan pengobatan pribadi.
Bagi pasien kanker, berakhirnya satu metode pengobatan tidak selalu berarti berakhirnya harapan.
Terkadang, yang terpenting adalah melakukan evaluasi ulang oleh tim ahli yang berpengalaman untuk mencari peluang pengobatan yang tepat yang mungkin belum dipertimbangkan sebelumnya.