- Kisah pasien
- Liu Heyi
“Petani Tidak Takut Rintangan, Hanya Takut Kehilangan Arah” — Kisah 2 Kali Terapi Intervensi yang Saya Jalani di Rumah Sakit Uni-Asia
Saya Pak Liu, berusia 48 tahun, dan telah menghabiskan sebagian besar hidup saya dengan bertani. Saat momen Tahun Baru Imlek tahun lalu, istri saya menyadari bahwa bola mata saya menguning. Waktu itu, saya mengira itu hanya karena kelelahan bekerja dan tidak terlalu memikirkannya. Namun ketika pergi ke rumah sakit kota, raut wajah dokter berubah saat melihat hasil rontgen saya, dan beliau menyuruh saya untuk segera pergi ke rumah sakit besar. Setelah mendatangi beberapa tempat, saya akhirnya didiagnosis mengidap pada hati. Setelah itu, kondisi penyakit saya memburuk dengan sangat cepat, terjadi penyumbatan parah pada saluran empedu, seluruh tubuh saya menjadi sangat kuning disertai rasa gatal, dan berat badan saya turun hampir 15 kg dalam waktu satu bulan. Laporan pemeriksaan menunjukkan kadar bilirubin saya melonjak hingga mencapai 257,50 μmol/L. Meskipun telah menjalani operasi intervensi drainase empedu di rumah sakit, indikator bilirubin saya tetap terus merangkak naik.

Gambar menunjukkan kondisi pasien saat awitan penyakit, di mana penyumbatan saluran empedu menyebabkan pewarnaan kuning yang parah pada kulit dan jaundis berat
Pada masa-masa itu, pikiran saya benar-benar linglung. Tubuh saya selalu kuat dan bertenaga, pekerjaan di ladang pun tidak pernah saya tinggalkan. Bagaimana mungkin tiba-tiba saya bisa terjerat penyakit seperti ini? Dokter di rumah sakit besar mengatakan posisi tumornya kurang menguntungkan karena menempel pada pembuluh darah besar, sehingga risiko jika langsung dilakukan operasi terbuka terlalu tinggi. Hati saya menjadi sangat gelisah, saya takut harus menjalani operasi besar itu, tetapi saya juga takut jika tidak dioperasi dan dibiarkan terus, kondisinya akan semakin memburuk.

Gambar menunjukkan hasil CT abdomen pasien. Panah merah menunjukkan adanya obstruksi berat pada saluran empedu.
Kemudian, atas rekomendasi seseorang, saya datang ke Rumah Sakit Uni-Asia. Pada akhir Februari, saya menjalani terapi intervensi pertama saya di sini. Dokter menjelaskan kepada saya bahwa metode ini tidak memerlukan operasi bedah besar. Mereka bisa menggunakan selang kateter yang sangat kecil untuk menyusuri pembuluh darah hingga mencapai organ hati, lalu mencari pembuluh darah yang menyuplai nutrisi ke tumor untuk disumbat sekaligus disuntikkan obat. Bagaimana persisnya proses di dalam tubuh itu berjalan, saya sendiri tidak paham. Saya hanya ingat saat berbaring di sana, dr. Liao Zhengyin sesekali berbicara kepada saya, “Selangnya sudah sampai di posisi,” atau “Obatnya sedang dimasukkan, jangan tegang ya.” Nada bicaranya sangat tenang dan santun, layaknya sedang mengobrol dengan kenalan. Sepanjang tindakan berlangsung saya berada dalam kondisi sadar penuh, tidak ada rasa tidak nyaman yang berarti, dan seluruh prosesnya selesai dalam waktu kurang dari satu jam.
Pemulihan pasca-tindakan pun berlangsung sangat cepat. Malam itu saya berbaring dengan tenang di tempat tidur, dan keesokan harinya saya mencoba menggerakkan kaki saya. Selain rasa agak kencang di area luka yang ditempeli kasa medis, tidak ada rasa tidak nyaman lainnya. Pada pagi hari ketiga, dokter datang ke bangsal untuk memeriksa kondisi saya. Setelah melihat luka bekas tindakan, beliau mengatakan bahwa pemulihannya sangat baik dan bertanya bagaimana perasaan saya. Saya menjawab bahwa saya sudah siap untuk pulang ke rumah. Istri saya yang berada di samping terus bergumam, mengatakan bahwa awalnya ia mengira saya harus dirawat inap selama sepuluh hari hingga setengah bulan, tidak disangka ternyata saya sudah bisa turun dari tempat tidur dan berjalan secepat ini. Pada hari kepulangan, saya menenteng sendiri barang bawaan saya saat berjalan keluar dari pintu gerbang rumah sakit, sambil membatin dalam hati: Ternyata, hal ini tidak semenakutkan yang saya bayangkan.
Pada awal April, saya kembali ke rumah sakit untuk menjalani terapi kedua. Kedatangan saya kali ini terasa jauh lebih tenang dan mantap. Dr. Liao masih mengingat saya. Saat memeriksa bangsal, beliau bertanya apakah belakangan ini saya makan dengan lahap dan apakah berat badan saya mengalami penurunan. Beliau bahkan sengaja membuka hasil rontgen sebelumnya untuk dibandingkan dengan hasil pemeriksaan kali ini, lalu menunjuk ke arah bayangan hitam di layar monitor sambil berkata, "Lihat, ukurannya sudah jauh lebih kecil dibandingkan yang kemarin." Pada momen itu, rasa bahagia dalam hati saya sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Saya hanya merasa bahwa jalan pengobatan yang saya pilih ini sudah benar.
Tindakan operasi kali ini memakan waktu dan melalui prosedur yang kurang lebih sama. Saat saya berbaring di atas meja operasi kali ini, hati saya terasa sangat tenang. Gerakan tangan dr. Liao sangat stabil dan lembut, dan kehadiran beliau di sisi saya membuat pundak saya yang tadinya tegang perlahan-lahan menjadi rileks. Setelah tindakan selesai, dokter meminta saya untuk berbaring selama beberapa jam tanpa banyak bergerak, cukup dengan meluruskan kaki saja. Bagi saya, hal seperti ini bukanlah apa-apa; berjongkok dan bekerja seharian di ladang jauh lebih melelahkan daripada ini. Pada hari ketiga, rasa sedikit begah di area dada dan punggung juga sudah mereda, dan pada hari keempat saya sudah bisa mengurus proses kepulangan dari rumah sakit. Sebelum pulang, perawat menjelaskan serangkaian hal yang harus diperhatikan kepada saya: tidak boleh minum alkohol, tidak boleh terlalu lelah, pemenuhan nutrisi harus dijaga dengan baik, dan wajib melakukan pemeriksaan darah rutin seminggu sekali. Saya mengangguk dan mencatat semuanya dalam hati.
Sekarang saya sudah berada di rumah, makan dengan lahap seperti biasa, dan berjalan-jalan santai. Pekerjaan di ladang untuk sementara waktu saya serahkan kepada anak laki-laki saya untuk diawasi, sehingga keseharian saya tidak jauh berbeda dengan sebelum sakit. Istri saya berkata bahwa rona wajah saya sudah jauh lebih segar dibandingkan saat momen Tahun Baru Imlek kemarin, bola mata saya tidak lagi menguning, dan saat tersenyum sudah terlihat sama seperti dulu. Untuk ke depannya, saya masih harus kembali ke Rumah Sakit Uni-Asia untuk menjalani siklus pengobatan berikutnya, dan saya tidak merasa panik. Dalam hidup ini, bertemu dengan rintangan itu tidak semenakutkan kehilangan arah tentang ke mana harus melangkah. Namun sekarang, arah tujuan saya sudah sangat jelas, sehingga hati saya terasa sangat damap dan mantap.
Kasus ini berdasarkan pengalaman nyata pasien dan telah melalui pemrosesan privasi. Informasi ini bukan merupakan janji hasil diagnosis atau pengobatan.